Awalnya sih sempat takjub dengan keberadaan TIM KPK, PANSUS ataupun SATGAS, soalnya mereka tampak mempesona di mata masyarakat, terutama pada hari-hari pertama TIM ini dilahirkan ke bumi. Misalnya KPK, dengan gagah berani mereka unjuk gigi dengan penangkapan beberapa gubernur, bupati, pejabat-pejabat, bahkan seorang besan Presiden. Begitu juga dengan PANSUS (Hak Angket Century), dengan bangganya mereka membusungkan dada mencecar menteri atau pejabat tinggi Negara, dan orang-orang terkait lainnya. Apalagi SATGAS (Satuan Khusus Penyelidik Mafia Hukum), dengan penuh percaya diri membawa para wartawan melakukan SIDAK ke sebuah rutan (rumah tahanan), dan menunjukkan akan adanya penyelewengan dalam keistimewaan penempatan seorang terdakwa kriminal terpenjara.
Akan tetapi, belakangan mulai timbul sebuah rasa yang janggal. Karena ketiga TIM Pahlawan ini sesungguhnya bukanlah benar-benar Seorang Pahlawan. Karena keberanian mereka, kepahlawanannya, kegagahannya, dan kegigihannya terlihat palsu, dan hanya sebuah aksi sesaat saja. Mereka seolah-olah tampak hebat dalam hari-hari pertamanya, tapi kemudian setelah beberapa waktu mulailah timbuk keredupan, kesunyian, hingga tak jelas apa yang sebenarnya terjadi dalam keseharian mereka. Aksi hebat di hari-hari pertama itu tampak seperti upaya “Mencari Muka”, entah itu kepada Pimpinan Negara, atau mungkin kepada masyarakat. Menunjukkan seolah-olah keberadaan mereka memang pantas dan diperlukan di tanah air ini.
Tapi, kemudian, apa yang terjadi? Hal yang terjadi adalah ternyata keberadaan mereka tidak lebih dari sekedar “politik pencitraan” dan “politik kepentingan”. Keberadaan mereka tidak lebih dari sekedar menambah beban Anggaran Rakyat untuk Negara, keberadaan mereka hanya menjadi project-project gak penting bagi mereka yang pandai menjilat. Bagaimana tidak, perhatikanlah, bahwa dalam menjalankan gerakan-gerakannya, aksi “tebang pilih” menjadi bagian yang tak terlepas, seolah-olah orang-orang yang mereka jatuhkan hanyalah orang-orang yang tidak mau memberi kontribusi bagi TIM, atau hanyalah orang-orang yang dapat dijadikan kambing hitam terkenal yang dapat menaikkan nama TIM.
Dibalik itu, apa yang terjadi? Ternyata, penyelamatan uang Negara yang seolah-olah mereka perjuangkan hanyalah palsu belaka. Seberapa besar uang yang mereka selamatkan, seberapa besar materi yang mereka perjuangan, tampaknya tak ada, atau sekalipun ada hanya angka-angka khayal saja. Bahkan yang terjadi lebih buruk lagi, mereka memanfaatkan keberadaan TIM untuk menjadi project ancaman bagi orang-orang tertentu, sehingga menjadi bisnis yang menarik dan terselubung di antara mereka.
Lalu, bagaimana jika kemudian hal ini diketahui rakyat banyak? Ya mudah ditebak, akan dibentuk TIM lagi yang menyelidiki TIM lain, maka berjamurlah tim-tim yang gak jelas fungsinya. Maka, habis semakin banyaklah uang Negara ini untuk mendanai tim-tim baru yang akan lahir. Ironi… Menyedihkan…

0 komentar:
Posting Komentar