MOBIL BUATAN INDONESIA

Masih teringat beberapa waktu yang lalu, isu mengenai mahalnya mobil menteri sempat mengganggu ke telinga masyarakat, tidak hanya itu, bahkan mobil anggota DPRD-pun (Riau) juga sempat membuat kita-kita terpancing emosinya. Ya, begitulah, mereka-mereka yang duduk di kursi panas sana lebih mementingkan kenyamanan dan kemewahan pribadi daripada memikirkan rakyat. Dari awal juga cara mereka mendapatkan jabatan juga tidak lolos dari kecacatan, ada sikat sikut sana sini, ada bayar sana bayar sini, ya jadinya begitu kalau sudah dapat kedudukan.


Back to the topic: “Mobil”, sebenarnya dari kemarin aku sempat terusik, kenapa Indonesia tidak memiliki mobil produksi dalam negeri yang cukup dikenal masyarakat, padahal, ternyata terdapat potensi yang sangat besar dari Sumber Daya Manusia yang mampu mengembangkan bisnis mobil dalam negeri. Di jawa sana, cukup banyak siswa-siswi SMK yang mampu menciptakan mobil dalam negeri yang cukup layak dilirik. Nah, itu baru anak SMK lho, apalagi kalau anak Kuliahan kan? Bahkan, kalo perlu, sekolahkan saja mereka-mereka yang berbakat ke luar negeri.

Malaysia saja mampu memperkenalkan mobil buatan dalam negerinya dengan bangga, yaitu “Proton”. Nah, kenapa kita enggak? Padahal, dulu para tetua-tetua kita selalu bilang, kalau si A bisa, kenapa kamu gak bisa, kan sama –sama makan nasi? Masa kata-kata itu cuma jadi bahasa basi saja, kalo si Malaysia bisa, kenapa kita enggak? Nah, kalo gitu peran pemerintah yang sebenarnya punya peran yang paling tinggi. Mestinya pemerintah mau berinvestasi dengan mendukung produksi mobil dalam negeri. Kemudian, buat peraturan yang mewajibkan setiap mobil dinas adalah mobil buatan dalam negeri. Selain itu, berikan kredit murah kepada masyarakat. Nah, dengan begitu industri mobil dalam negeri kan bisa berkembang, bahkan anggaran mobil di seluruh kedinasan seluruh Indonesia bisa terpangkas, banyak banget tuh hematnya… Bagaimana pendapat teman-teman??

Read More...

KPK, PANSUS, DAN SATGAS HANYA MENGHABISKAN LEBIH BANYAK UANG NEGARA, BENARKAH?

Awalnya sih sempat takjub dengan keberadaan TIM KPK, PANSUS ataupun SATGAS, soalnya mereka tampak mempesona di mata masyarakat, terutama pada hari-hari pertama TIM ini dilahirkan ke bumi. Misalnya KPK, dengan gagah berani mereka unjuk gigi dengan penangkapan beberapa gubernur, bupati, pejabat-pejabat, bahkan seorang besan Presiden. Begitu juga dengan PANSUS (Hak Angket Century), dengan bangganya mereka membusungkan dada mencecar menteri atau pejabat tinggi Negara, dan orang-orang terkait lainnya. Apalagi SATGAS (Satuan Khusus Penyelidik Mafia Hukum), dengan penuh percaya diri membawa para wartawan melakukan SIDAK ke sebuah rutan (rumah tahanan), dan menunjukkan akan adanya penyelewengan dalam keistimewaan penempatan seorang terdakwa kriminal terpenjara.

Akan tetapi, belakangan mulai timbul sebuah rasa yang janggal. Karena ketiga TIM Pahlawan ini sesungguhnya bukanlah benar-benar Seorang Pahlawan. Karena keberanian mereka, kepahlawanannya, kegagahannya, dan kegigihannya terlihat palsu, dan hanya sebuah aksi sesaat saja. Mereka seolah-olah tampak hebat dalam hari-hari pertamanya, tapi kemudian setelah beberapa waktu mulailah timbuk keredupan, kesunyian, hingga tak jelas apa yang sebenarnya terjadi dalam keseharian mereka. Aksi hebat di hari-hari pertama itu tampak seperti upaya “Mencari Muka”, entah itu kepada Pimpinan Negara, atau mungkin kepada masyarakat. Menunjukkan seolah-olah keberadaan mereka memang pantas dan diperlukan di tanah air ini.

Tapi, kemudian, apa yang terjadi? Hal yang terjadi adalah ternyata keberadaan mereka tidak lebih dari sekedar “politik pencitraan” dan “politik kepentingan”. Keberadaan mereka tidak lebih dari sekedar menambah beban Anggaran Rakyat untuk Negara, keberadaan mereka hanya menjadi project-project gak penting bagi mereka yang pandai menjilat. Bagaimana tidak, perhatikanlah, bahwa dalam menjalankan gerakan-gerakannya, aksi “tebang pilih” menjadi bagian yang tak terlepas, seolah-olah orang-orang yang mereka jatuhkan hanyalah orang-orang yang tidak mau memberi kontribusi bagi TIM, atau hanyalah orang-orang yang dapat dijadikan kambing hitam terkenal yang dapat menaikkan nama TIM.

Dibalik itu, apa yang terjadi? Ternyata, penyelamatan uang Negara yang seolah-olah mereka perjuangkan hanyalah palsu belaka. Seberapa besar uang yang mereka selamatkan, seberapa besar materi yang mereka perjuangan, tampaknya tak ada, atau sekalipun ada hanya angka-angka khayal saja. Bahkan yang terjadi lebih buruk lagi, mereka memanfaatkan keberadaan TIM untuk menjadi project ancaman bagi orang-orang tertentu, sehingga menjadi bisnis yang menarik dan terselubung di antara mereka.

Lalu, bagaimana jika kemudian hal ini diketahui rakyat banyak? Ya mudah ditebak, akan dibentuk TIM lagi yang menyelidiki TIM lain, maka berjamurlah tim-tim yang gak jelas fungsinya. Maka, habis semakin banyaklah uang Negara ini untuk mendanai tim-tim baru yang akan lahir. Ironi… Menyedihkan…

Read More...

DOUBLE DEGREE

Kuliah di luar negeri, wah menarik banget rasanya. Apalagi setelah mendengar sejuta pengalaman dari mereka yang dah benar-benar memijakkan kaki di sana. Berdiri di antara gedung-gedung yang tinggi, melihat sungai yang jernih, lingkungan yang beda dengan tanah air, kemajuan-kemajuan teknologi, suara-suara bahasa asing, dan juga merasakan gimana serunya belajar atau kuliah disana.

Hmm… Pengen lebih membuka pikiran lebih tepatnya, karena dengan lingkungan global yang berbeda dengan tanah lokal seperti yang aku pijak saat ini, pasti semangat-semangat baru akan bersemi di dalam jiwa, pengen jadi lebih disiplin, lebih berwawasan, lebih smart, lebih kreatif, dan lebih bisa dibanggakan tentunya. Berat? Ah, gak juga, asalkan kita peka dengan berbagai informasi, insya allah berbagai peluang dan kesempatan mengenyam pengalaman di sana akan terbuka.

Salah satu kesempatan itu adalah dengan memasuki program kuliah double degree. Di Indonesia, di beberapa universitas sudah ada program kya gini, meski kebanyakan sih di bidang ekonomi, tapi ada juga di bidang lain, kya sains misalnya, di ITB itu ada. Berhubung yang diincar adalah program Magister (S2), klo bidangnya gak sejurusan dengan yang kita ambil waktu S1, agak berat juga menjalaninya, ya minimal mesti diperdalam juga lah mata kuliah pengantarnya.

Dengan mengikuti double degree, kita memiliki kesempatan untuk menjalani masa perkuliahan selama 1 tahun di luar negeri, misalnya di Jepang, Belanda, Prancis, Jerman, Australia, dll. Dengan satu syarat, asal selama 1 tahun pertama kuliah di Indonesia, kita cukup berprestasi dan memiliki TOEFL yang mencukupi. Di beberapa universitas, bahkan kesempatan menjalani kuliah di luar negeri ini juga diberkahi dengan iringan beasiswa. Yang lebih menarik lagi, begitu kita wisuda atau tamat, kita bisa memiliki dua gelar sekaligus, yaitu gelar nasional dan internasional, misalnya M.Si dan M.Sc sekaligus.

Akan tetapi, meskipun semua ini terlihat sangat menarik, kita gak boleh mikir enaknya aja. Kita juga harus benar-benar berjuang untuk perkuliahan ini, perdalam bahasa inggris dengan serius, jalani kuliah dengan baik, dan harus siap menjalani perkuliahan di universitas asing, mengerti penjelasan dosen waktu kuliah (bahasa inggris tentunya), memahami berbagai literature, dan mampu menulis dalam bahasa inggris dengan baik tentunya. Disamping itu, siap-siap juga dengan abis-abisan ngerjain tugas dan penelitian yang menumpuk dari kampus. Nah, mulai dengar yang gak enaknya kan… Tapi, asal punya kemauan dan keinginan untuk maju yang kuat, maka semua ini wajib bisa teratasi… Ciayo…

Read More...
    d

Silahkan download

..